“Ritual Panglukatan”

Bagi Anak yang Lahir Wuku Wayang

Seseorang yang lahir saat ‘wuku wayang’ (umur wuku wayang dari 14 -20 April 2019) mendapat perlakuan istimewa. Sehabis pertunjukan ‘wayang sapuh leger’ mereka akan menjalani prosesi panglukatan. Tujuannya untuk membersihkan dan menyucikan pribadi secara lahir dan batin. Yang dibersihkan ialah hal negatif dan malapetaka yang diperoleh dari dosa-dosa, baik berasal dari sisa perbuatan terdahulu (Sancita Karmaphala) maupun dari perbuatan hidup saat ini.

 

Menurut I Dewa Ketut Wicaksana dalam buku ‘Wayang Sapuh Leger, disebutkan bahwa sarana panglukatan terdiri atas bejana (periuk tanah) berisi air bening ditopang dengan wanci, air cendana, bija, alat pedupaan dan bunga berwarna 11 macam, senyiru segehan gede lengkap dengan tetabuhan tuak, arak, dan beren. Sedangkan jenis-jenis wayang yang digunakan sebagai sarana panglukatan yaitu Twalen, Sang Hyang Siwa, Sang Hyang Acintya, dan Kekayonan.

Upacara penglukatan dimulai dari Sang Amangku Dalang turun dari tempatnya ngwayang menuju natar di mana anak atau orang yang dilukat sudah menanti. Orang tersebut duduk menghadap utara atau ke timur beralaskan alat bajak untuk pria dan alat pertenunan untuk wanita serta segenggam padi utuh.

 

Dalang berdiri berhadapan membawa dupa, setelah dimantrai lalu ditancapkan ke tanah sebagai saksi. Selanjutnya mengambil air bersih untuk membersihkan kedua tangan yang akan dilukat.

Toya panglukatan diambil oleh dalang ditaruh di atas ubun-ubun anak yang akan diruwat lalu dimantrai. Kemudian, dalang mengambil padma busung untuk memercikkan toya panglukatan tersebut. Toya panglukatan dituangkan kepada anak yang dilukat untuk diminum, dan diraupkan ke muka sebanyak tiga kali. Setelah itu baru toya panglukatan disiramkan ke tubuh sang anak.

Anak yang dilukat bersama kedua orang tuanya melakukan persembahyangan kehadapan Sanggah Surya dan kehadapan wayang.

 

Pengelukatan massal

Mengingat pentingnya upacara penglukatan, maka beberapa yayasan atau organisasi keagamaan (Hindu) melakukan upacara penglukatan massa pada hari Tumpek Wayang (Sabtu, 20 April 2019). Seperti tahun lalu (2018), Yayasan Lingga Gana menggelar “Pebayuh Oton dan Sapu Leger bagi 400 umat yang lahir saat wuku wayang. Ritual pebayuh oton dan sapu leger itu berlangsung di Banjar Penarukan Tengah Kelod, Desa Penarukan, Kecamatan Kerambitan pada Sabtu (24/2/2018).

 

Ketua Umum Yayasan Lingga Gana, I Gusti Made Suteja menyebutkan kegiatan serupa akan berlangsung di Pasraman Lingga Gana Prasta PancaTirta, Tabanan.