Desa Pakraman Berperan Penting dalam Pengelolaan Laut dan Pesisir di Bali

      PADA dasarnya, ekonomi Bali bergantung pada sektor pertanian yang ditopang industri rumah tangga dan industri pariwisata. Ekonomi pulau kecil ini kurang terdiversifikasi dan lebih khusus daripada ekonomi lain, khususnya di sektor primer seperti pertanian dan perikanan, dan kemudian di sektor tersier seperti pariwisata. Bali dengan pantainya yang indah menjadi daya tarik wisata utamanya untuk orang asing. Biasanya disebut sebagai “kawasan pariwisata” yang menawarkan keindahan alam daerah pesisir seperti Kuta, Sanur, Nusa Dua, Tuban, Jimbaran, Candidasa, Amed, Lovina dan banyak lainnya pantai.

n    Konsep pembangunan berkelanjutan dinyatakan sebagai proses adaptif dari perubahan terkait dengan eksploitasi sumber daya, arah investasi dan lain-lain. Titik kunci dari pembangunan berkelanjutan ini adalah memelihara integritas ekologi dan keberagaman berdasarkan kebutuhan manusia, konservasi lingkungan dan apresiasi kearifan lokal.

     Di Bali, pembangunan berkelanjutan berarti keseimbangan ekonomi, lingkungan dan budaya. Namun beberapa tahun terakhir ini, Bali menghadapi banyak masalah terkait sampah. Masyarakatnya sudah kehilangan kesadaran laut mereka. Permasalahan kerusakan terumbu karang, hutan bakau dan pencemaran laut memberi cerita berbeda jika dibandingkan dengan legenda tentang bagaimana orang suci di masa lampau membangun pura di daerah pesisir Bali untuk melindungi wilayah laut dan pesisir Bali.

      Karena itu, masyarakat Bali perlu mengulang kembali komitmen mereka untuk melindungi lingkungan Bali sebagaimana diceritakan oleh leluhur mereka. Desa tradisional di Bali harus berperan melindungi wilayah laut dan pesisir dari kehancuran tersebut.

     Terkait masalah pesisir di Bali ini, ada lima opsi strategi yang bisa dipertimbangkan:

(1) Menerapkan filosofi Tri Hita Karana (THK) sebagai strategi pengelolaan laut dan pesisir. Secara leksikal THK berarti tiga penyebab kemakmuran atau kebahagiaan dari hubungan harmonis antara manusia, alam dan Tuhan;

(2) Strategi untuk menerapkan model pengelolaan pesisir terpadu (ICM) yang meliputi tiga subsistem utama, yaitu subsistem sosio-demografi, subsistem ekonomi, dan subsistem sumber daya alam laut;

(3): Menggabungkan pengetahuan lokal ke dalam perencanaan pembangunan secara holistik untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan demi generasi mendatang;

(4) Pemberdayaan organisasi tradisional seperti desa pekraman, subak, dan bendega yang memiliki kekuatan dalam masyarakat;

(5) Deklarasi “Piagam Sakenan Bali” sebagai komitmen untuk menghilangkan sampah plastik di Bali.

        Deklarasi ini mengusulkan penerapan hukum adat Bali yang mengatur setiap desa pakraman dan organisasi adat lainnya. Jadi organisasi tradisional di Bali dapat Berperan sangat penting dalam pelaksanaan pembangunan berkelanjutan di Bali, seperti yang terlihat melalui penerapan filsafat Tri Hita Karana. Masyarakat menghormati kepercayaan ini dengan melindungi lingkungan mereka. v *) Pusat Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Udayana, Denpasar