Hari Purnama dan Tilem di Bali

 

Dalam agama Hindu khususnya di Bali memiliki hari raya yang didasarkan pada sasih/ bulan yaitu Purnama dan Tilem. Hari Raya Purnama dan Tilem merupakan bagian dari Naimitika Yadnya (ritual yang dilakukan pada waktu tertentu).

Makna Purnama

Kata Purnama berasal dari kata “purna” yang artinya sempurna. Purnama dalam kamus umum Bahasa Indonesia berarti bulan yang bundar atau sempurna. Pemujaan pada saat purnama ditujukan kehadapan Sanghyang Candra, dan Sanghyang Ketu sebagai dewa kecemerlangan untuk memohon kesempurnaan dan cahaya suci dari Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam berbagai wujud Ista Dewata. Biasanya pada hari suci purnama ini disebutkan umat Hindu menghaturkan Daksina dan Canang Sari pada setiap pelinggih dan pelangkiran yang ada di setiap rumah.

Umat Hindu yakin, pada hari Purnama memiliki rasa kesucian yang tinggi, sehingga hari itu disebutkan dengan kata ”Devasa Ayu”. Oleh karena itu, setiap datangnya hari-hari suci yang bertepatan dengan hari Purnama, maka pelaksanaan upacaranya disebut,”Nadi”.

Makna Tilem

Hari Raya Tilem dirayakan ketika bulan mati, ketika langit gelap tanpa ada sinar bulan.  Ditinjau dari pengetahuan Astronomi, bahwa pada bulan tilem itu posisi bulan berada diantara Matahari dengan Bumi, sehingga suasana menjadi gelap gulita di malam hari.

Upacara Tilem bermakna sebagai upacara pemujaan terhadap Dewa Surya, diharapkan semua umat Hindu melakukan pemujaan dan bersembahyangan dengan rangkaian berupa upacara yadnya. Umat Hindu meyakini pada saat hari Tilem ini mempunyai keutamaan dalam menyucikan diri dan berfungsi sebagai pelebur segala kotoran/mala yang terdapat  dalam diri manusia, juga karena  bertepatan dengan Dewa Surya beyoga/semedhi memohonkan keselamatan kepada Hyang Widhi.

Tilem mempunyai hubungan yang erat dan tidak terpisahkan dengan Purnama, dalam lontar Purwa Gama disebutkan saat datang purnama dan tilem hendak lah manusia melaksanakan sembahyang dan upacara pemujaan terhadap Sang Hyang Widhi untuk memohon penyucian diri, berkah dan juga kesejahteraan.

Melalui siklus Purnama dan Tilem, sesungguhnya alam mengajarkan kepada manusia tentang adanya yang jahat dan yang baik, yang gelap dan yang terang. Keduanya berputar mengelilingi kehidupan manusia secara berkala dan tak akan pernah berhenti dunia ini berakhir.

Purnama dan Tilem ini juga mengajarkan kepada manusia bahwa ketika dalam keadaan senang maka janganlah terlarut dalam kesenangan yang melenakan itu, begitu pula ketika manusia sedang berada dalam keadaan terpuruk maka harus segera bangkit karena di depan cahaya akan menyambut. Seloamat hari raya Purnama yang jatuh pada Selasa (19/2-2019). BTNewspaper/

bali.panduwisata.id; inputbali.com