Hari Raya Galungan

     HARI raya Galungan dirayakan oleh umat Hindu setiap 210 hari, dengan menggunakan perhitungan kalender Bali yaitu pada hari Budha Kliwon Dungulan (Rabu Kliwon wuku Dungulan). Bila setahun (kalender Gregorian) berumur 365 hari, maka dalam setahun Galungan dirayakan kali. Seperti tahun 2018, Galungan jatuh pada hari Rabu (30 Mei 2018) dan berikutnya jatuh pada hari Rabu 26 Desember 2018.

     Masyarakat Bali meruayakan Galungan sebagai hari kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan). Artinya setiap 210 hari, mereka melakukan instropeksi diri, apakah dalam perjalanan setahun penuh (210 hari), mereka lebih banyak melakukan kebajikan atau sebaliknya kebatilan (kejahatan atau keserakahan) yang mendominasi hidup mereka. Perayaan Galungan ditandai dengan dipasangnya penjor pada setiap pintu masuk pekarangan rumah-rumah orang Bali (Hindu).

     Rangkaian Galungan dimulai sejak Sabtu (5 Mei 2018) hingga 35 hari kemudian yang disebut akhir Galungan (Pegat Uwakan, Rabu, 4 Juli 2018). Berikut, rangkaian upacara Galungan. Tumpek Wariga (5 Mei): Tumpek Wariga sering disebut Tumpek Bubuh, atau Tumpek Pengatag, atau Tumpek Pengarah jatuh 25 hari sebelum Galungan. Hari ini, mereka memuja Sang Hyang Sangkara sebagai Dewa Kemakmuran dan Keselamatan Tumbuh-tumbuhan yang dirayakan dengan menghaturkan banten (sesaji) yang berupa Bubuh (bubur) Sumsum.

     Sugihan Jawa (24 Mei):

Sugihan Jawa berasal dari 2 kata: Sugi dan Jawa. Sugi memiliki arti bersih, suci. Sedangkan Jawa berasal dari kata jaba yang artinya luar. Secara singkat pengertian Sugihan Jawa adalah hari sebagai pembersihan/penyucian segala sesuatu yang berada di luar diri manusia (Bhuana Agung).

     Sugihan Bali (25 Mei):

Sugihan Bali memiliki makna yaitu penyucian/ pembersihan diri sendiri/Bhuana Alit (kata Bali=Wali=dalam). Tata cara pelaksanaannya adalah dengan cara mandi, melakukan pembersihan secara fisik, dan memohon Tirta (air suci) kepada Sulinggih sebagai simbolis penyucian jiwa raga untuk menyongsong hari Galungan.

     Hari Penyekeban (27 Mei)

Hari Penyekeban ini memiliki makna filosofis untuk “nyekeb indriya” yang berarti mengekang diri agar tidak melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan oleh agama.

      Hari Penyajan (28 Mei):

Penyajan berasal dari kata Saja yang dalam bahasa Bali artinya benar, serius. Hari penyajan ini memiliki filosofis untuk memantapkan diri untuk merayakan hari raya Galungan.

     Hari Penampahan (29 Mei):

Hari Penampahan jatuh sehari sebelum Galungan. Pada hari ini umat akan disibukkan dengan pembuatan [penjor] sebagai ungkapan syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa atas segala anugrah yang diterima selama ini.

     Hari Raya Galungan (30 Mei):

Pagi hari umat telah memulai upacara untuk Galungan ini. Dimulai dari persembahyangan di rumah masing-masing hingga ke Pura sekitar lingkungan.

     Hari Umanis Galungan (31 Mei):

Pada umanis Galungan, umat Hindu melaksanakan persembahyangan dan dilanjutkan dengan Dharma Santi dan saling mengunjungi sanak saudara atau tempat rekreasi. Hari Pemaridan Guru (2 Juni): Kata Pemaridan Guru berasal dari kata marid dan Guru. Memarid sama artinya dengan ngelungsur/ nyurud (memohon), dan Guru tiada lain adalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sehingga hari ini adalah hari untuk nyurud/ngelungsur waranugraha dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Siwa Guru.

     Ulihan (3 Juni):

Ulihan artinya pulang/kembali. Dalam konteks ini yang dimaksud adalah hari kembalinya para dewata-dewati/ leluhur ke kahyangan dengan meninggalkan berkat dan anugrah panjang umur. Dirayakan pada Minggu Wage wuku Kuningan

     Hari Pemacekan Agung (4 Juni):

Kata pemacekan berasal dari kata pacek yang artinya tekek atau tegar, sehingga makna hari ini adalah sebagai simbol keteguhan iman umat manusia atas segala godaan selama perayaan hari Galungan.

    Hari Kuningan (9 Juni):

Hari Kuningan dirayakan umat dengan cara memasang tamiang, kolem, dan endong.Tamiang adalah simbol senjata Dewa Wisnu karena menyerupai Cakra, Kolem adalah simbol senjata Dewa Mahadewa, sedangkan Endong tersebut adalah Hari Raya Galungan simbol kantong perbekalan yang dipakai oleh Para Dewata dan Leluhur kita saat berperang melawan adharma.

     Hari Pegat Uwakan (4 Juli):

Hari ini adalah runtutan terakhir dari perayaan Galungan dan Kuningan. Dilaksanakan dengan cara melakukan persembahyangan, dan mencabut penjor yang telah dibuat pada hari Penampahan. Penjor tersebut dibakar dan abunya ditanam di pekarangan rumah. 􀂙 BTNewspaper

 

Artikel yang relevan

Galungan adalah rentetan upacara agama Hindu di seantero pulau Bali

     HARI Raya Kuningan yang dirayakan umat Hindu 10 ha

     HARI Raya Galungan yang jatuh pada Rabu, 30 Mei 20

      UMAT Hindu di Bali, Indonesia merayakan odalan di

      GALUNGAN dirayakan setiap 210 hari sekali. Hari r