l Merayakan kemenangan Dharma Melawan Adharma

      GALUNGAN dirayakan setiap 210 hari sekali. Hari raya Galungan merupakan perayaan kemenangan dharma atas adharma (kemenangan kebaikan atas kejahatan). Ini ditandai dengan ‘kehadiran’ roh - roh leluhur dari sanak keluarga yang telah meninggal datang kembali mengunjungi Bumi.

     Hari raya Galungan merupakan rentetan hari raya yang cukup panjang. Dimulai sejak mereka merayakan hari Tumpek Bubuh atau Tumpek Wariga (1 Desember 2018) dan berakhir pada hari Buda Kliwon Pahang Pegatwuakan (30 Januari 2019).

     Mendekati puncak hari raya Galungan disebut hari Penampahan (25 Desember 2018) dimana pada sore harinya penjor kemenangan mulai ditancapkan di sisi kanan pintu masuk rumah di pinggir jalan raya, kemudian pada Buda Kliwon Pahang penjor dicabut dan bekas-bekasnya dibakar dan dijadikan kompos yang dipakai untuk menyuburkan tanah pada areal suci (pura, merajan dan sanggah).

     Berikut adalah beberapa hari sebelum dan sesudah Galungan, dimana selama waktu tersebut semua sekolah negeri di Bali ditutup selama 2 minggu untuk liburan. Sementara kantor-kantor pemerintah dan Bank tutup pada puncak - puncak perayaannya saja.

Hari Penyekeban

     Tiga hari sebelum Galungan disebut hari Penyekeban (23 Desember). Saat itu pisang yang menjadi bahan utama sesajen Galungan disimpan agar menjadi masak saat Galungan. Penyekeban berarti “hari untuk menutupi”, karena ini adalah hari ketika pisang hijau ditutupi dalam pot tanah liat besar untuk mempercepat pematangan mereka.

Hari Penyajaan

     Dua hari sebelum Galungan disebut hari Penyajaan (24 Desember) yaitu hari pembuatan jaja (kue beras goreng) untuk persembahan. Hari ini juga bermakna sebagai waktu introspeksi bagi orang Bali dan waktu untuk membuat kue beras Bali yang dikenal sebagai jaja. Kue-kue berwarna ini, terbuat dari adonan tepung beras dan digoreng yang digunakan dalam persembahan dan dimakan saat Galungan.

Hari Penampahan

     Sehari sebelum Galungan adalah hari Penampahan (25 Desember). Pada hari ini mereka ramai-ramai memotong babi atau ayam untuk berpesta. Sebelumnya, ternak babi dan ayam diberkati dan disembelih untuk membuat makanan khas Galungan seperti lawar, sate dan sebagainya.

Galungan (26 Desember 2018)

     Ini adalah puncak perayaan Galungan. Orang Bali biasanya mengenakan pakaian tradisional terbaiknya untuk menghadiri doa bersama di pura keluarga. Ini adalah hari untuk mengingatkan diri mereka sendiri tentang silsilah panjang leluhur mereka dan kisah indah yang menjadi bagian mereka. Orang Bali menyambung kembali dan memperbarui komitmen mereka untuk mencoba membuat hari esok yang lebih baik, mencoba untuk membuat diri mereka lebih baik setiap hari.

Manis Galungan

     Sehari setelah Galungan disebut Manis Galungan. Hari ini didedikasikan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga dan mengunjungi keluarga besar yang mungkin tinggal di bagian lain di Bali. Jalan-jalan ramai oleh orang yang bepergian dan mengunjungi tempat wisata bersama-sama. Mereka melakukan perjalanan wisata sehari bersama keluarga.

Hari Kuningan

     Sepuluh hari setelah Galungan disebut hari Kuningan (5 Januari 2019). Mereka berdoa dan memberi persembahan bagi roh leluhurnya kembali ke surga.

Buda Kliwon Pahang

     Rangkaian terakhir dari Galungan adalah Buda Kliwon Pahang (30 Januari 2019). Hari ini ditandai dengan menurunkan penjor - penjor yang telah sebulan lebih terpasang di depan rumah mereka. Selamat menikmati hari raya Galungan. BTNewspaper

Artikel yang relevan

     HARI raya Galungan dirayakan oleh umat Hindu setia

      FURAMA Villas & Spa Ubud Bali diberi kesempat

     BANTEN pada hakekatnya memvisualisasi Tattwa ajara

         BERTEMPAT di Taman Budaya Denpasar, Gubernur B

     PADA rapat koordinasi yang dipimpin oleh Kepala BN