Menyongsong Galungan

     HARI Raya Galungan yang jatuh pada Rabu, 30 Mei 2018 dirayakan di seluruh pelosok Bali. Hal itu ditandai dengan semaraknya pulau Bali oleh pemasangan penjor berbagai ukuran di depan pekarangan rumah- rumah orang Bali. Bahkan beberapa perkantoran dan hotel juga memasang penjor untuk ikut-serta merayakan hari Galungan. Ada satu hal yang menarik pada 25 hari sebelum Galungan yaitu hari raya Tumpek Bubuh. Tumpek bubuh yang dirayakan pada hari Sabtu, 5 Mei 2018 sebagai ungkapan rasa syukur kepada Hyang Maha Pencipta dalam manifestasinya sebagai Hyang Sangkara yang menciptakan tumbuh- tumbuhan, sehingga dapat memenuhi kehidupan sehari-hari.

     Tumpek Bubuh juga disebut Tumpek Wariga, karena dilaksanakan pada Saniscara Kliwon, wuku Wariga (5 Mei). Perayaan ini tidak cukup hanya dengan menghaturkan sesajen untuk tumbuh-tumbuhan, namun perlu diiringi dengan aksi nyata, misalnya turut menyukseskan program penghijauan yang telah dicanangkan pemerintah seperti program satu miliar pohon, one man one tree, wanita menanam pohon atau program sejenisnya; menyayangi tumbuh-tumbuhan, memerangi aksi illegal logging dan lainnya. Dengan lestarinya alam dan tumbuh-tumbuhan ini, diharapkan dapat pula menekan atau mengurangi dampak dari pemanasan global (global warming).

     Sedangkan tata cara pelaksanaan Tumpek Bubuh yaitu menghaturkan bubur sumsum yang terbuat dari tepung. Adapun banten atau sarana yang diperlukan dan dihaturkan saat Tumpek Wariga adalah sebagai berikut: Banten Prass; Banten Nasi Tulung Sesayut; Banten Tumpeng; Bubur Sumsum; Banten Tumpeng Agung; Ulam itik (diguling), banten penyeneng; Tetebusan, dan Canangsari, ditambah dupa harum.

     Banten tersebut dihaturkan menghadap Kaja-Kauh karena dipercaya Bhatara Sangkara sebagai Dewanya tumbuhan berstana di arah itu. Kemudian, semua tanaman yang ada di sekitar rumah atau pekarangan diberikan sasat gantungan dan diikat di bagian batangnya. Setelah itu, berikan bubur sumsum. Lalu, “atag”, pukulkan tiga kali dengan pisau tumpul (tiuk tumpul) dengan mengucapkan mantra sebagai berikut: “Kaki-kaki, dadong dija? Dadong jumah gelem kebus dingin ngetor. Ngetor ngeed-ngeed-ngeeedngeeed, ngeed kaja, ngeed kelod, ngeed kangin, ngeed kauh, buin selae lemeng galungan mebuah pang ngeeed” (“Kakek-kakek, nenek dimana? Nenek dirumah sakit panas mengigil. Mengigil lebatt-lebatt-lebattt- lebattt, lebat utara, lebat selatan, lebat timur, lebat barat, lagi dua puluh lima hari hari raya galungan berbuahlah dengan lebat”)

     Mantra tersebut adalah mantra sesontengan (makna kiasan) secara turun- temurun diucapkan saat mempersembahkan upakara ) Tumpek Bubuh dan sering disebut Tumpek Atag, karena melakukan pukulan (di-atag).

     Seperti diketahui, istilah Tumpek Bubuh (mungkin karena salah satu isi sesajen yang dihaturkan berupa bubur), ada pula yang menyebutnya dengan Tumpek Pengatag, Tumpek Pengarah (mungkin pula sebagai pemberitahuan terkait datangnya Hari Raya Galungan, karena rerahinan ini jatuhnya persis 25 hari menjelang Galungan). Ada pula yang menyebutnya sebagai Tumpek Wariga, karena bertepatan dengan wuku Wariga. *

Artikel yang relevan

     HARI raya Galungan dirayakan oleh umat Hindu setia

      UMAT Hindu di Bali, Indonesia merayakan odalan di

...

         DANU Kertih upaya untuk menjaga kelestarian su

       AJANG Gelar Seni Akhir Pekan Bali Mandara Nawana

       DIPERLUKAN pendekatan kekinian jika ingin mendek