Patung Garuda Lambungkan Nama Made Ada

        KARYA ukir patung garuda melambungkan nama Made Ada. Hari – hari ini, setiap bulan ribuan turis asing berkunjung ke Adaguna Museum, yang memajang karya ukir kayu Made Ada, di Dusun Pakudui, desa Kedisan, Tegalalang, Gianyar, Bali. Di museum yang diresmikan Presiden Megawati Soekarnoputri pada 31 Desember 2002 itu pengunjung disuguhi kemegahan karya-karya Made Ada, yang sebagian besar adalah patung garuda.

        Memang kakek tujuh orang cucu itu tak melulu mengukir patung garuda. Tetapi patung garuda-lah yang membuat namanya kesohor. Karyanya tersebar ke seluruh penjuru dunia. “Patung saya dipajang di kedutaan – kedutaan besar Indoneia di luar negeri,” ujar bapak lima anak itu.

       Made Ada mewarisi bakat mematung ayahnya, I Nyoman Kampih. Selain dari sang ayah, ia juga belajar mengukir dari kakeknya, sehingga pria kelahiran 18 Agustus 1948 ini sudah mahir membuat patung ketika remaja. Namun saat itu, seperti tak ada yang hirau dengan karyanya. Sampai suatu saat, pada 1981 Presiden Soeharto berkunjung ke rumah Made Ada dan jatuh hati pada karya –karyanya.

      “Pak Harto membeli semua patung saya,” ujarnya. Selanjutnya, kehidupan Made Ada berubah drastis. ‘Tugas negara’ membuatnya berkesempatan keliling dunia.

       “Setiap tahun Pak Harto dua kali mengirim saya ke luar negeri,” katanya. Ia juga bertemu dengan tokoh – tokoh besar dunia seperti Ronald Reagen dan Vladimir Putin. Bukan hanya dengan Suharto, Made Ada juga ‘dekat’ dengan Presiden Indonesia berikutnya seperti Bacharuddin Jusuf Habibie, Adurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudoyono.

        “Tahun 2003, saya diajak ibu Mega ke istananya bapak Vladimir Putin di Kremlin,” katanya.

        Nama besar sang maestro-lah yang membuatnya dipercaya menyiapkan 1.000 buah patung garuda untuk souvenir bagi para delegasi IMF-World Bank Annual Meeting di Nusa Dua Oktober lalu. “Saya melibatkan sekitar seratus pengukir di dusunsaya,” katanya.

         Di Adaguna Museum, terdapat patung garuda setinggi lima meter yang membuat pengunjung terbengong-bengong . Bukan hanya soal ukuran, mereka juga takjub atas ‘kerumitan’ ukiran kayu itu. Patung itu pernah ditawar pembeli Rp. 900 juta, tapi Made Ada tak melepasnya. Dan, ada lagi patung garuda setinggi tujuh meter yang menjadi koleksi dari sebuah hotel di Dalung, Kuta.

        Made Ada mengaku tak tahu persis jumlah koleksi patung di museumnya. Yang jelas, ia telah bersepakat dengan anak –anaknya tak akan menjual satu buah patung pun di museum itu. Ia ingin, sepeninggalannya nanti karyanya terus dapat dinikmati oleh para pengunjung. Wajah Made Ada memancarkan keceriaan ketika ia bercerita perihal rencana perayaan ulang tahun museumnya, pada 27 Desember nanti. Ia berharap suatu saat, Presiden Joko Widodo singgah ke Adaguna Museum.

        “Pak Jokowi belum pernah ke sini,” katanya. v BTNewspaper/Wis