MELURUSKAN PENGERTIAN SAPUT POLENG

     SAPUT poleng menurut istilah adat di Bali itu adalah satu bentuk pakaian adat di Bali yang warnanya hitam dan putih. Biasanya saput poleng ini digunakan untuk melapisi pakaian adat. Saput poleng, lebih pendek dari pada kain utama yang dipakai.

     Yang perlu kita pahami adalah pengertian saput poleng yang warna hitam putih itu. Dewasa ini tidak saja saput atau selempot saja berwarna hitam putih tetapi ada juga udeng dan hal-hal lain yang berwarna hitam putih. Pengertian masyarakat akan warna hitam putih itu masih sangat kental dipengaruhi oleh pandangan Barat. Kalau philosofi Barat hitam diartikan negatif seperti ada istilah blac magic atau ilmu hitam. Berbeda halnya dengan pengertian Timur yang didominasi oleh ajaran Hindu yang mengartikan hitam adalah simbol Dewa Wisnu, manifestasi Tuhan dalam memelihara dan melindungi kesuburan atau Wisnu dinyatakan Dewa kesuburan dan putih lambang kesucian.

     Penggunaan saput poleng dengan penggabungan warna hitam dan putih artinya memberi inspirasi kepada bhakta Hindu agar mengolah kesuburan yang ada di dunia ini dengan pikiran, ucapan dan prilaku suci.

     Yang dimaksud warna hitam sebagai lambang kesuburan bukan hanya tanah yang subur untuk pertanian semata.Tapi pemandangan yang indah,seni budaya yang adi luhung, ketrampilan juga sebagai bentuk-bentuk kesuburan. Misalnya alam yang indah kan bisa dikelola secara benar, baik dan tepat dengan niat suci menjadi objek pariwisata.

     Demikian juga seni budaya yang adi luhung bisa dikelola menjadi keindahan untuk menarik pariwisata. Semuanya itu dikelola dengan hati yang suci dan tulus sehingga para wisatawan merasa aman berkunjung kedaerah kita.Kalau pariwisata dapat dikelola dengan niat suci dan tulus yang dilambangkan dengan warna putih dalam saput poleng. Itulah implementasi saput poleng sebagai simbol untuk membangun kehidupan mengelola kesuburan dengan kesucian dalan hidup ini. Kesuburan yang patut dikelola adalah kesuburan alam dan kesuburan manusia yang punya ilmu dengan kebudayaannya.

     Kesuburan alam akan terwujud apabila eksistensi masing-masing unsur alam itu sesuai dengan hukum Rta atau hukum alam ciptaan Tuhan seperti dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra VII.14 bahwa Tuhan menciptakan Rta yaitu hukum mengatur eksistensi alam dan Dharma mengatur eksistensi manu sia baik sebagai manusia individu mau pun sebagai makhluk sosial. Ini artinya manusia yang punya kewajiban menegakan tetap tegaknya hukum alam ciptaan Tuhan yang disebut Rta. Memelihara tetap tegaknya hukum Rta sebagai bentuk memelihara kesuburan, itulah salah satu wujud pengamalan dalam memaknai saput poleng.

      Memelihara agar badan tetap sehat secara fisik,tenang secara rokhani dan konsisten mengamalkan profesi yang dimiliki untuk diwujudkan dalam hidup sebagai bentuk memelihara kesuburan diri.Lebih-lebih memelihara kesehatan fisik,ketenangan jiwa dan tetap eksisnya profesi yang kita miliki untuk diabdikan pada peningkataan nasib sesama.I ntinya memilihara tegaknya kesehatan diri,ketenangan jiwa dan profesional itulah sebagai wujud memelihara kesuburan diri agar bisa melakukna pengabdian pada sesama.

     Inilah bentuk dari pengamalan Asih pada alam, Punia atau mengabdi pada sesama, itulah bentuk Bhakti pada Tuhan. Dengan demikian alam akan terpelihara kesuburanya, manusia terus eksis baik secara individual mau pun secara sosial dalam kebersamaanya dalam masyarakat. Jadi penggunaan saput poleng itu sangat dalam dan luas. Hendaknya pemaknaan Tattwanya itulah lebih ditonjolkan untuk mewujud kan Asih pada alam,Punia pada sesama manusia dan itulah bentuk Bhakti manusia pada Tuhan. Jangan di balik untuk Bhakti pada Tuhan, flora dan fauna diboroskan dengan membuat banten yang besar dan banyak, jalan ditutup demi upacara Yadnya dengan mengabaikan prosedur hukumdan etika.

     Apa lagi sisa banten yang sudah jadi sampah malahan dhanyutkan kesungai. Hal itu jelas bertentangan dengan makna Tattwa dari pada banten. Menurut Weda Smrti V.40 penggunaan flora dan fauna sebagai bahan banten pada hahekatnya bertujuan untuk melestarikan flora dan fauna tersebut. Apa lagi menurut Atharvaveda XVIII.I.17 sebagi salah satu dari Tri Chanda adalah Apah atau air. Yang lainya adalah Vata atau udara dan Ausada atau tumbuh-tumbuhan bahan obat-obatan dan bahan makanan.

     Demikianlah pengertian saput poleng untuk memotivasi manusia memelihara kesuburan alam dan kesuburan manusia dan masyarakat dengan niat,wacana dan tindakan yang benar,suci dan tepat. *