Pelepasliaran Burung Curik Bali (Leucopsar rothschildi.Stressman.1912) ke Habitat Alam di TN. Bali Barat

Perjalanan panjang perlindungan keanekaragaman hayati di Bali dimulai pada tahun 1911 ketika seorang peneliti biologi asal Jerman (Dr.Baron Stressman) menjumpai spesies burung endemik langka di Desa Bubunan saat perjalanan menuju Maluku. Penemuan ini ditindaklanjuti dengan penelitian intensif yang dilakukan oleh Dr. Baron Viktor Von Plesen dan diketahui bahwa penyebaran burung Jalak Bali ± 320 Km2 mulai dari Desa Bubunan dekat Singaraja sampai ke Jembrana bagian barat. Mencapai puncaknya pada tahun 1947, Dewan Raja-raja Bali telah menetapkan Taman Pelestarian Alam Bali Barat melalui Keputusan No. E I/4/5, dengan tujuan awalnya melestarikan harimau bali di kawasan bali bagian barat seluas 19.600 ha. Pada tahun 1982, Taman Pelestarian Alam Bali Barat dinyatakan sebagai calon Taman Nasional berdasarkan Surat Keputusan Menteri Nomor 736/Mentan/X/1982 seluas 77.000 Ha.  Penujukkan kawasan  ini diperkuat  dengan  Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 493/Kpts-II/1995.

Untuk perlindungan potensi keanekaragaman fauna endemik seperti Curik Bali ( Leucopsar rothschildi), Banteng (Bos javanicus),  dan  9  mamalia  khas  Bali  dan  kawasan  perairan  yang  mempunyai  potensi terumbu karang (Coral reef), keanekaragaman ikan hias, tempat bersarang penyu (Lepidochelys olivacea), dan habitat 2 jenis hiu (Tricaenodon sp dan Carcharinus sp) yang perlu dilestarikan dan dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan dan pendidikan, serta menunjang rekreasi dan pariwisata.

Curik  bali  atau  Jalak  bali  merupakan  spesies  burung  endemik  yang  populasi alaminya hanya terdapat di wilayah bagian barat pulau Bali. Curik bali hanya terdapat di Pulau Bali dengan kantung populasi alaminya hanya terdapat di Taman Nasional Bali Barat. Saat ini persebarannya hanya terdapat di kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Spesies ini sejak tahun 1970 sudah dilindungi di tingkat nasional, bahkan IUCN telah memasukkannya ke dalam Buku Data Merah (red data book) sejak tahun 1966. Selanjutnya, dukungan kebijakan di tingkat nasional terhadap perlindungan Curik bali diperkuat dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1998 dan di tingkat daerah yang menobatkannya sebagai lambang fauna Provinsi Bali pada tahun 1991. Tak cukup dengan kebijakan yang ada,  di  tingkat  Kementerian  Lingkungan  Hidup  dan  Kehutanan  juga  diperkuat  dengan Arahan Strategis Konservasi Spesies Nasional dan Penetapan Peningkatan Populasi 25 (dua puluh lima) Spesies Prioritas Utama Terancam Punah Untuk Ditingkatkan Populasinya Sebesar  10%  pada  Tahun  2015  –  2019  (Keputusan  Direktur  Jenderal  KSDAE  No: SK.180/IV-KKH/2015).

Maksud dan tujuan pelepasliaran curik bali adalah mewujudkan kondisi populasi curik bali yang hasil pelepasliaran yang dapat berkembang biak dan bertahan dengan kondisi habitatnya dalam rangka memenuhi target visi pengelolaan TN. Bali Barat Menjadi Pusat Keterwakilan Keanekaragaman Hayati Pulau Bali Melalui Pengelolaan Berlandaskan Hubungan Harmonis Alam, Sosial, dan Budaya untuk Kepentingan Pemanfaatan Berkelanjutan.

Pelepasliaran dapat diartikan sebagai upaya melepaskan kembali satwa liar ke alam yang merupakan habitatnya. Burung curik bali (Leucopsar rothschildi) yang akan dilepasliarkan di alam telah mendapatkan perlakuan habituasi di site pelepasliaran sehingga diharapkan  curik  bali  yang  dilepasliarkan  segera  dapat  menyesuaikan  kehidupan  dihabitatnya. Dari laporan time series dan hasil monitoring Burung Curik Bali di alam oleh petugas TN Bali Barat, dalam 3 (tiga) tahun terakhir (2016-2018), populasi burung di Taman Nasional Bali Barat menunjukkan peningkatan yang signifikan dari baseline data tahun 2015 sebanyak 35 ekor, tahun 2019, burung Curik Bali terpantau191 ekor yang terbang bebas di alam. Sedangkan di kandang habituasi serta breeding center/ UPKPJB Tegal Bunder Burung Curik/ Jalak Bali mencapai 465 ekor, ini belum termasuk di kandang masyarakat di desa penyangga TN Bali Barat yang menjadi penangkar perorangan ataupun kelompok dengan izin penangkaran dari Balai KSDA Bali dan pendampingan oleh fasilitator TN Bali Barat dan pihak terkait. Perkembangan singnifikan tersebut,  dilakukan  dengan  strategi  menambah  lokasi pelepasliaran dari 1 tempat menjadi beberapa tempat sesuai dengan hasil kajian teknis yang dilakukan oleh petugas TN Bali Barat. Lokasi pelepasliaran tersebut antara lain di Semenanjung Prapat Agung ( Tj Pasir/Segara rupek/lampu merah, brumbun dan kotal), di Cekik, di Labuan Lalang dan di Tj. Gelap, khususnya di lokasi Cekik, Labuan Lalang dan di Teluk Brumbun secara rutin dalam 5 tahun (2014-2019) dilakukan pelepasliaran. Pada tahun ini direncanakan pelepasliaran burung curik bali di kawasan TN. Bali Barat sebanyak 2 (dua) kali. Pelepasliaran pertama direncanakan sebanyak 45 (empat puluh lima) ekor yang berada di site pelepasliaran di Labuan Lalang, di Cekik, di Teluk Brumbun dan Teluk Kotal.

Peningkatan jumlah populasi satwa liar prioritas ini tak terlepas dari peran para pihak, media serta masyarakat yang ikut terlibat aktif dalam semangat konservasi. Peran serta aktif semua   pihak   untuk   kelestarian   curik   bali   pun   telah   tumbuh   baik   dengan   adanya penangkaran-penangkaran  yang  memiliki  kewajiban  mengembalikan  ke  alam,  deklarasi desa-desa sekitar kawasan TN Bali Barat untuk menjaga kelestarian curik bali, dukungan pihak swasta melalui CSR kepada masyarakat yang berada sekitar kawasan TN Bali Barat yang bersinergi dengan upaya pelestarian curik bali dan para pemerhati lingkungan yang terus menggemakan upaya pelestarian curik bali melalui workshop ataupun media. Pelepasliaran dilaksanakan secara seremonial di lokasi pelepasliaran Cekik, pelepasan akan dilakukan   oleh   Direktur   Konservasi   Keanekaragaman   Hayati   Ditjen   KSDAE,   Bupati Jembrana yang disaksikan oleh Forkompinda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Jembrana),   Pimpinan   Dinas/instansi/lembaga   di   lingkup   pemerintah   provinsi   Bali, Pemerintah Kabupaten Jembrana dan Pemerintah Kabupaten Buleleng, pimpinan BUMN terkait, perbekel, bendesa adat/ tokoh masyarakat, kelompok masyarakat/ lembaga swadaya masyarakat, pelajar, pemerhati konservasi, aktivis lingkungan, media elektronik dan media cetak.

Moment pelepasliaran saat ini, bertepatan dengan peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Dunia Tahun 2019, Sesuai dengan Surat Edaran Menteri LHK RI tentang Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Dunia (The International Day for Biological Diversity) tahun
2019 pada tanggal 22 Mei, tema peringatan adalah “Sustainable for Our Biodiversity, Our Food   dan   Our   Healty”   mengajak   semua   pihak   untuk   memberikan   perhatian   dan meningkatkan kepedulian terhadap keanekaragaman hayati melalui langkah kegiatan baik secara  berkelompok  maupun  individual  sehingga  dapat  semakin  memberikan  dorongan dalam  upaya  bersama  mewujudkan  kelestarian  keanekaragaman  hayati  dalam pembangunan yang berkelanjutan bagi kepentingan negara dan bangsa Indonesia.

Selain acara pelepasliaran Curik Bali sebanyak 45 ekor, juga terdapat persembahan tari kreasi Jalak Putih oleh muda-mudi Gilimanuk, pemberian apresiasi dukungan pelestarian keanekaragaman hayati kepada masyarakat, pemberian izin edar usaha penangkaran Curik Bali, pemasangan nesting box, penanaman pohon endemik dan juga penandatangan dukungan pelestarian Curik Bali dan keanekaragaman hayati Taman Nasional Bali Barat oleh tamu undangan dan para pihak. (TNBB.2019).

Author: